GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI TIDAK TERKOREKSI PADA PROGRAM PENAPISAN OLEH UNIT OFTALMOLOGI KOMUNITAS PUSAT MATA NASIONAL RUMAH SAKIT MATA CICENDO DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2017

Tanggal : 17-Dec-2018 | Dilihat : 308 kali
Oleh : Dian Paramitasari, dr;  Nina Ratnaningsih, dr, SpM(K), MSc

PENDAHULUAN

Kelainan refraksi merupakan permasalahan okular yang paling sering ditemukan di seluruh dunia. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab utama gangguan penglihatan di dunia, atau mencakup 53% dari seluruh penyebab gangguan penglihatan derajat sedang dan berat. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab terbanyak kedua kebutaan setelah katarak, atau sebanyak 21% dari seluruh penyebab kebutaan di dunia pada tahun 2015. Angka kebutaan dan gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 2020. Angka kelainan refraksi di Indonesia, mencakup 20.7% dari seluruh penyebab kebutaan dan 25% dari seluruh penyebab gangguan penglihatan sedang dan berat.

Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi dapat mengurangi pencapaian potensi edukasi yang maksimal, membatasi kesempatan kerja, menurunkan produktivitas, serta menurunkan kualitas hidup seseorang secara umum. Estimasi dampak kerugian ekonomi global diperkirakan mencapai 202.000.000.000 United States Dollar (US$) karena seluruh kelainan refraksi tidak terkoreksi serta mencapai 11.023.000.000 US$ karena presbiopia. Kelainan refraksi dapat dengan mudah diatasi melalui pemberian pelayanan refraktif dengan pemeriksaan sederhana dan pemberian kacamata. Biaya maksimal yang dikeluarkan untuk memberikan pelayanan refraktif yang efektif kepada masyarakat diperhitungkan masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan potensi kerugian ekonomi yang dapat terjadi.

Mengetahui distribusi dan penyebab gangguan penglihatan dari waktu ke waktu merupakan suatu langkah yang penting untuk mendukung perencanaan, alokasi sumber daya, serta melakukan evaluasi dalam mengatasi permasalahan gangguan penglihatan.

Program penapisan oleh unit oftalmologi komunitas Rumah Sakit Mata Cicendo telah mencakup 12 dari total 31 kecamatan di Kabupaten Bandung pada tahun 2017. Jumlah penduduk kabupaten bandung yang diperiksa pada program penapisan tahun 2017 adalah 5.322 penduduk, dari total populasi kabupaten bandung yang berjumlah 3.534.111 jiwa. Data dari 4.726 penduduk memenuhi kriteria inklusi penelitian.

Sebagian besar subjek yang memenuhi kriteria inklusi adalah wanita. Sebanyak 1.149 orang berada pada rentang usia 41 hingga 50 tahun. Sesuai dengan klasifikasi WHO, sebanyak 1.339 orang dinilai memiliki ganguan penglihatan. Sebagian besar subjek yang memiliki gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi termasuk ke dalam gangguan penglihatan derajat sedang. Masih didapatkan sebagian kecil subjek dengan gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi masuk ke dalam kategori gangguan penglihatan derajat berat dan buta.

Sebanyak 2.299 orang, atau sejumlah 75,75% dari seluruh subjek berusia 40 tahun atau lebih yang diperiksa pada program penapisan, mengalami gangguan penglihatan dekat akibat presbiopia. Sejumlah 1.824 orang pada populasi penelitian memiliki kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Proporsi kelainan refraksi yang tidak terkoreksi pada penelitian ini adalah 38,59%. Sebagian besar subjek dengan kelainan refraksi yang tidak terkoreksi adalah wanita, serta sebagian besar berada pada rentang usia 51 hingga 60 tahun. Astigmatisma merupakan diagnosis kelainan refraksi yang paling sering ditemukan diantara subjek dengan kelainan refraksi yang tidak terkoreksi.

Sebagian besar penderita kelainan refraksi tidak terkoreksi dengan diagnosis miopia, hiperopia, maupun astigmatisma memiliki jenis kelamin wanita. Miopia paling sering ditemukan pada rentang usia 11 hingga 20 tahun (23,74%). Sebagian besar subjek dengan hiperopia (39,37%) dan astigmatisma (21,38%) berada pada rentang usia 51 hingga 60 tahun. Terdapat 191 orang dengan kelainan refraksi yang memiliki kacamata. Cakupan kepemilikan kacamata pada penelitian ini adalah 4,04%. Hanya sebanyak 186 orang atau 3,94% yang telah terkoreksi dengan kacamata yang dimiliki.

Kelainan refraksi merupakan suatu kondisi dimana mata mengalami kegagalan untuk memfokuskan cahaya agar jatuh tepat di retina. Panjang aksial bola mata, kurvatura kornea, serta keadaan lensa kristalina merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status refraktif seseorang. Sebagai salah satu peyebab gangguan penglihatan yang yang dapat dihindari, mengatasi kelainan refraksi dapat memulihkan penglihatan yang baik bagi sebagian besar penderita gangguan penglihatan di dunia. Mempertimbangkan besarnya kebutuhan untuk koreksi kelainan refraksi di seluruh dunia, WHO menetapkan koreksi kelainan refraksi di negara maju dan berkembang sebagai salah satu prioritas utama pada inisiasi ‘Vision 2020: the right to sight’. Pengetahuan akan kondisi kelainan refraksi di populasi dapat membantu untuk merencanakan strategi pelayanan kesehatan.

Penelitian ini menemukan kelainan refraksi yang tidak terkoreksi menyebabkan gangguan penglihatan bagi 1.339 orang. Sebanyak 153 juta orang di dunia mengalami gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Kelainan refraksi tidak terkoreksi merupakan penyebab gangguan penglihatan derajat ringan dan sedang paling besar di dunia.

Hasil penelitian ini menunjukan hasil serupa, yaitu sebagian besar kelainan refraksi yang tidak terkoreksi menyebabkan gangguan penglihatan sedang, disusul dengan gangguan penglihatan ringan. Proporsi kelainann refraksi yang tidak terkoreksi pada penelitian ini adalah 38,59% (95% CI : 37,22- 39,93%). Prevalensi kelainan refraksi tidak terkoreksi secara global diketahui bervariasi diantara wilayah dan etnis. Usia 51-60 merupakan rentang usia dengan jumlah kelainan refraksi tidak terkoreksi terbanyak 21,77% (95% CI: 19,93-23,72). Studi oleh Senjam dkk menyatakan bahwa resiko gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi meningkat seiring bertambahnya usia, terutama diatas usia 50 tahun. Penelitian ini menemukan bahwa  wanita lebih banyak mengalami kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, yaitu sebanyak 67,76% (95% CI : 65,58-69,87). Seluruh diagnosis kelainan refraksi tidak terkoreksi, baik miopia, hiperopia, maupun astigmatisma lebih banyak ditemukan pada wanita. Temuan ini sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu. Secara global, prevalensi wanita dengan gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi lebih banyak dibandingkan pria. Disparitas ini ditemukan di seluruh belahan dunia. Studi oleh Mganga dkk mempostulasikan bahwa ketidaksetaraan jenis kelamin ini disebabkan oleh tingginya angka harapan hidup menyebabkan banyak populasi wanita di usia tua pada negara maju, namun pada negara berkembang lebih disebabkan oleh akses wanita kepada pelayanan kesehatan mata yang lebih terbatas dibandingkan dengan pria.

Kelainan refraksi miopia dapat timbul akibat panjang aksial bola mata seseorang lebih panjang atau kekuatan dioptri dari salah satu komponen refraktif bola mata lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang normal. Pada kondisi ini, cahaya difokuskan pada satu titik di depan retina. Berdasarkan sebuah meta-analisis oleh Hashemi dkk, prevalensi miopia padadewasa diketahui lebih tinggi wilayah di Asia Tenggara dibandingkan dengan wilayah lain di dunia. Sejumlah 438 orang atau 24,01% subjek dengan kelainan refraksi tidak terkoreksi menderita miopia. Sebagian besar subjek dengan miopia memiliki jenis kelamin wanita, serta berada pada rentang usia 11 hingga 20 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Handayani-Ariestanti dkk serta Tuladhar dkk yang menemukan miopia banyak terjadi pada usia 11. hingga 20 tahun. Penelitian oleh Pan dkk di wilayah Amerika Serikat menyatakan bahwa resiko miopia lebih tinggi secara signifikan di usia muda dibandingkan dengan usia tua, serta wanita ditemukan lebih sering menderita miopia. Hal ini sesuai dengan gambaran perjalanan penyakit miopia, serta sebagian besar penduduk usia muda cenderung memiliki aktivitas jarak dekat yang tinggi, sehingga memiliki resiko miopia yang lebih besar.

Gangguan penglihatan derajat berat dan kebutaan dapat disebabkan oleh miopia tinggi yang tidak terkoreksi. Berdasarkan sebuah meta-analisis oleh Holden dkk, angka miopia tinggi pada negara-negara Asia ditemukan lebih besar dibanding wilayah lain. Miopia derajat tinggi diketahui meningkatkan resiko terjadinya perubahan patologis okular seperti posterior vitreous detachment dan ablasio retina.

Kondisi hiperopia dapat terjadi akibat panjang aksial bola mata yang lebih pendek atau kekuatan dioptri dari salah satu komponen refraktif bola mata lebih rendah dibandingkan orang normal. Pada kondisi ini, cahaya paralel dibiaskan pada satu titik fokus yang jatuh di belakang retina. Anakanak di wilayah Asia Tenggara diketahui memiliki prevalensi hiperopia yang tergolong rendah. Sebanyak 259 orang atau 14,20% subjek pada penelitian ini memiliki kelainan refraksi tidak terkoreksi berupa hiperopia. Sebagian besar diantaranya adalah wanita dan berada dalam rentang usia 51 hingga 60 tahun. Penelitian oleh Tuladhar dkk menyebutkan bahwa hiperopia paling sering ditemukan pada usia diatas 30 tahun. Studi lain menyebutkan persebaran usia penderita hiperopia tinggi pada usia anak-anak dan usia tua, sementara rendah pada usia produkif. Angka  kejadian hiperopia yang lebih tinggi pada usia lanjut seperti pada penelitian ini dapat dipengaruhi oleh penurunan kelenturan lensa seiring bertambahnya usia.

Astigmatisma merupakan suatu kondisi dimana pantulan cahaya dari suatu objek jatuh menjadi dua garis fokus. Astigmatisma dapat terjadi akibat variasi kurvatura kornea dan lensa pada meridian yang berbeda. Angka kejadian astigmatisma diketahui lebih bervariasi di berbagai wilayah di dunia. Asia tenggara memiliki prevalensi astigmatisma kedua terbanyak setelah wilayah Amerika.  Astigmatisma merupakan kelainan refraksi yang paling sering ditemukan pada penelitian ini, yaitu sebanyak 1127 orang atau 61,79% dari seluruh subjek dengan kelainan refraksi tidak terkoreksi. Handayani-Ariestanti dkk juga mendapatkan hasil serupa pada penelitiannya, yaitu astigmatisma merupakan kelainan refraksi utama yang paling banyak ditemukan.

Jumlah penderita astigmatisma pada penelitian ini paling banyak berada pada rentang usia 51 hingga 60 tahun. Secara global ditemukan bahwa 40% dari populasi usia dewasa menderita astigmatisma. Penelitian oleh Saw dkk di wilayah Sumatra juga menemukan bahwa angka astigmatisma lebih tinggi di usia lanjut. Tingginya kejadian astigmatisma pada usia lebih tua dapat disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada kornea seiring dengan bertambahnya usia.

Seiring dengan bertambahnya usia, lensa kristalina mulai kehilangan kemampuannya untuk berakomodasi.  sehingga timbul suatu kondisi yang disebut dengan presbiopia. Presbiopia umumnya timbul sejak usia 40 tahun, namun berbagai faktor diketahui mempengaruhi timbulnya presbiopia, seperti aktivitas harian dan kondisi kelainan refraksi yang sebelumnya telah dimiliki oleh seseorang. Terhambatnya aktivitas oleh presbiopia menyebabkan penurunan produktivitas serta kualitas hidup seseorang, sehingga WHO menyarankan agar penapisan presbiopia pada populasi dilakukan secara rutin.

Hasil penelitian ini menunjukan sebanyak 2.299 penduduk, atau sejumlah 75,75% dari seluruh penduduk berusia 40 tahun atau lebih menderita presbiopia. Menurut penelitan Frick dkk, jumlah penderita gangguan penglihatan dekat akibat presbiopia yang tidak terkoreksi secara global mencapai 826 juta jiwa, atau sebanyak enam kali lipat penderita gangguan penglihatan jauh akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Sebanyak 45,76% penderita presbiopia juga memiliki kelainan refraksi lain. Penderita miopia diketahui memiliki kebutuhan akomodasi yang lebih rendah dibandingkan dengan orang normal, sementara penderita hiperopia diketahui memiliki kebutuhan akomodasi yang lebih besar. Penderita presbiopia dengan kondisi astigmatisma pada umumnya akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan koreksi kacamata baca yang nyaman dengan membeli kacamata sendiri tanpa melalui pemeriksaan refraktif terlebih dahulu.

Terdapat 191 orang dengan kelainan refraksi yang memiliki kacamata. Cakupan kepemilikan kacamata pada penelitian ini adalah 4,04%. Hanya sebanyak 186 orang atau 3,94% yang telah terkoreksi dengan kacamata yang dimiliki. Hasil yang ditemukan pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan data Riskesdas pada tahun 2013 yang menyatakan bahwa prevalensi penggunaan alat bantu koreksi adalah sebesar 12,7% pada masyarakat Indonesia. Beberapa penelitian menemukan bahwa dua penyebab utama rendahnya angka koreksi kelainan refraksi di negara berkembang adalah keterbatasan ekonomi penderita, serta penderita tidak merasa membutuhkan konsultasi untuk mengatasi keluhan yang dirasakan.

Penelitian ini masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya data yang didapatkan belum mencerminkan keadaan sebenarnya di populasi masyarakat Kabupaten Bandung. Hal ini disebabkan karena data didapatkan dari hasil penapisan refraksi oleh unit Oftalmologi Komunitas Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, tidak menggunakan metode sampling serta randomisasi.

SIMPULAN

Proporsi kelainan refraksi yang tidak terkoreksi adalah 38,59%. Sebanyak 2904 orang memiliki tajam penglihatan normal atau memiliki kelaian refraksi yang telah terkoreksi. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi paling banyak ditemukan pada wanita dan orang dengan usia 51 hingga 60 tahun. Astigmastisma merupakan diagnosis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan. Sebanyak 75,75% orang berusia diatas 40 tahun.  mengalami gangguan penglihatan akibat presbiopia. Saran peneliti yaitu dilakukan penelitian dengan penghitungan sampel sesuai kaidah penelitian untuk mendapatkan nilai yang dapat

mewakili populasi.