FISIOTERAPI UPAYA UNTUK MERINGANKAN SAKIT STROKE

Tanggal : 24-Oct-2018 | Dilihat : 19 kali
Oleh: Dewi Suci, SSt.FT,M.Fis

“Bagi penderita stroke, semakin dini penyakitnya dikelola, maka persentase kesembuhannya semakin besar”

Kemajuan teknologi saat ini dapat meningkatkan harapan hidup penderita stroke.  Penderita dapat sembuh sempurna, namun seringkali masih ada gejala sisa seperti kelumpuhan anggota gerak, lengan, tungkai, dan gangguan koordinasi organ tubuh.

Perkembangan teknologi kedokteran itupun diikuti dengan perkembangan teknik-teknik fisioterapi dan ditunjang pula dengan kemajuan teknologi alat-alat fisioterapi yang semakin canggih. Penanganan fisioterapi pasca stroke menjadi mutlak bagi pasien untuk dapat meningkatkan kemampuan gerak dan fungsinya. Berbagai metode intervensi fisioterapi seperti pemanfaatan electrotherapy, hydrotherapy, exercise therapy (Bobath method, proprioseptive neuromuscular fascilitation, neuro developmental treatment, sensory motor integration, dll) telah terbukti memberikan manfaat yang besar dalam mengembalikan gerak dan fungsi pada pasien pasca stroke. Akan tetapi peran serta keluarga yang merawat dan mendampingi pasien juga sangat menentukan keberhasilan program terapi yang diberikan.

Penanganan fisioterapi pada stroke adalah proses pembelajaran sensomotorik berupa pembentukan pola gerak normal. Interaksi pasien dengan fisioterapis amat sangat terbatas,  sehingga boleh jadi pembentukan pola gerak saat latihan menjadi tidak berarti dibandingkan pola gerak tidak normal yang terbentuk dalam aktifitas keseharian pasien di rumah. Dampak yang mungkin timbul akibat penanganan yang salah yaitu pasien akan menghasikan pembelajaran sensomotorik yang salah dan akan memperlambat proses perkembangan gerak.

Untuk itu dengan program “edukasi bagi keluarga pasien stroke” mengenai tata penanganan pasien stroke di rumah akan sangat bermanfaat dalam mengembalikan kemampuan gerak dan fungsi pada pasien stroke.

Beberapa hal yang perlu diketahui dalam penanganan pasien stroke di rumah, antara lain:

1. Secara umum kondisi pasien pasca stroke seringkali mengalami masalah pada kestabilan emosional, karena adanya perubahan kemampuan dalam melakukan aktivitas. Seorang pasien stroke selalu merasa putus asa karena pasien merasa kelumpuhan seakan tidak dapat dipulihkan lagi. Hal ini dapat disikapi dengan selalu melakukan pendekatan yang kooperatif dan memberikan keyakinan kalau potensi untuk sembuh selalu ada.

2. Motivasi pasien mungkin akan meningkat jika pasien dapat merasakan perubahan yang positif setelah diberikan tindakan, karena yang paling tahu tentang peningkatan kemampuan gerak adalah pasien sendiri. Untuk itu terapi yang diberikan haruslah tepat.

3. Kebanyakan pasien mengkondisikan seluruh tubuhnya ikut lemah, padahal seharusnya dengan kelemahan pada anggota gerak disatu sisi tubuh, pasien masih dapat beraktifitas dengan organ di sisi tubuh yang sehat serta postur tubuh yang baik.

Program Latihan Pasca Stroke

Program ini dirancang bagi penderita stroke yang sebagian besar mobilisasinya menggunakan kursi roda. Sebagian penderita bisa berjalan, baik dengan bantuan keluarga ataupun menggunakan alat bantu seperti tongkat, tripod ataupun walker. Lengan atau tungkai yang terkena kemungkinan kaku (sulit digerakan) yang disebabkan karena spastisitas dan sulit untuk mengontrol gerakan. Seringkali pasien juga mengalami gangguan keseimbangan dan sulit untuk memindahkan berat tubuh kesisi yang terkena stroke.

Pakaian yang dianjurkan adalah pakaian yang tidak menghambat gerakan, seperti pakaian olahraga. Penggunaan sepatu dengan anti selip atau sepatu atletik sangat dianjurkan. Selain itu keluarga harus memperhatikan area kulit tungkai yang terkena dari tanda-tanda seperti kemerahan, luka tekan, bengkak atau terbakar, terutama bagi penderita yang mengalami gangguan sensorik.

Latihan ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan fleksibilitas dan relaksasi otot-otot sisi tubuh yang terkena

2. Membantu mengembalikan pola gerak yang normal

3. Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi

4. Mengurangi nyeri dan kekakuan sendi

5. Memelihara lingkup gerak sendi pada lengan dan tungkai yang terkena.

Dosis latihan

Setiap gerakan di ulang sebanyak 8 kali dan latihan dilakukan minimal 2 kali sehari.

Latihan 1 – Memelihara gerakan bahu dan mencegah nyeri bahu

a. Posisi tidur telentang. Jalin atau satukan jari-jari dan letakan diatas perut.

b. Secara perlahan angkat lengan sampai setinggi bahu, dan pertahankan siku tetap lurus.

c. Kembalikan tangan ke posisi awal.

Catatan: Jika timbul nyeri saat gerakan, dapat dikurangi dengan membatasi gerakan sampai tingkat tidak ada nyeri, lalu dilanjutkan sampai timbul nyeri. Jangan paksakan gerakan jika nyeri bertambah, namun usahakan agar luas gerakan bertambah setiap harinya.

Latihan 2 – Memelihara gerakan bahu (bermanfaat untuk pasien yang sulit berguling di tempat tidur)

a. Posisi tidur telentang. Jalin atau satukan jari-jari dan letakan diatas perut.

b. Secara perlahan angkat tangan melewati dada, luruskan siku

c. Secara perlahan gerakan tangan dari satu sisi ke sisi lain

d. Jika seluruh pengulangan latihan telah selesai, tekuk siku dan kembalikan posisi tangan kembali diatas perut.

Catatan: Jika terjadi nyeri pada bahu, gerakan sampai sebatas titik nyeri. Jika sakit berlanjut, hentikan latihan.

Latihan 3 – Meningkatkan gerakan panggul, pinggul dan lutut (membantu mengurangi kekakuan dan juga bermanfaat untuk berguling di tempat tidur)

a. Posisi tidur telentang. Jalin atau satukan jari-jari dan letakan diatas perut.

b. Tekuk kedua lutut dan kaki menapak di tempat tidur.

c. Tahan posisi lutut, lalu secara perlahan gerakan ke arah kanan tubuh sejauh mungkin, lalu kembali lagi ke posisi awal.

d. Gerakan kembali ke arah kiri tubuh sejauh mungkin, dan jaga agar kedua lutut rapat. Lalu kembali ke posisi awal.

Catatan: Keluarga dapat membantu untuk menginstruksikan adar kedua lutut tetap rapat.

Latihan 4 – Meningkatkan gerakan pinggul dan lutut, menstimulasi gerakan yang diperlukan untuk berjalan (bermanfaat ketika bangun dari tempat tidur sebelum ke posisi duduk)

a. Posisi tidur miring ke sisi tubuh yang tidak terkena stroke, kedua kaki rapat.

b. Tekuk dan gerakan lutut yang terkena stroke sejauh mungkin kea rah dada. Keluarga dapat membantu dengan menyangga tungkai agar tidak terjatuh.

c. Kembali ke posisi awal

Latihan 5 – Meningkatkan kekuatan otot-otot penunjang siku (diperlukan untuk menahan tubuh saat bangun dari berbaring)

a. Posisi duduk di tepi tempat tidur atau sofa, letakan lengan bawah dan telapak tangan menempel pada tempat tidur atau sofa. Siku dapat disangga dengan menggunakan bantal.

b. Secara perlahan pindahkan berat tubuh kea rah siku yang ditekuk. Keluarga dapat membantu menjaga keseimbangan.

c. Dorong tangan kebawah melawan alas duduk, lurusukan siku dan kembali duduk tegak (bantuan diperlukan untuk mencegah cedera siku).

d. Secara perlahan, tekuk siku kembali, agar sanggahan tubuh kembali di lengan bawah.

Catatan: Latihan ini sebaiknya tidak dilakukan jika bahu belum stabil atau tidak dapat menyangga tubuh bagian atas. Konsultasikan dahulu dengan dokter/fisioterapis sebelum melakukan latihan ini.

Latihan 6 – Mengurangi kekakuan pada punggung dan meningkatkan rotasi tubuh yang diperlukan saat berjalan

a. Posisi duduk dibangku yang tinggi dengan kedua telapak kaki menapak di lantai. Jika diperlukan dapat menggunakan sofa atau kursi roda.

b. Jari-jari tangan saling menggenggam.

c. Bungkukan tubuh ke depan dan kearah luar kaki kanan dengan cara memutar tubuh.

d. Gerakan tangan ke atas kearah diagonal, yaitu ke bahu kiri, dengan menjaga siku tetap lurus.

e. Ulangi untuk sisi sebaliknya.

Catatan: Hanya penderita yang telah memiliki keseimbangan  yang dapat duduk mandiri yang dapat melakukan latihan ini. Jika masih terdapat gangguan keseimbangan, keluarga dapat menjaga dari bagian depan dan mengarahkan gerakan dengan memegang lengan penderita.

Latihan 7 – Latihan gerakan yang diperlukan untuk bangun dari posisi duduk

a. Posisi duduk di kursi yang disandarkan pada dinding untuk mencegah kursi tergelincir

b. Jari-jari kedua tangan saling menggenggam. Arahkan lengan ke depan.

c. Dengan posisi kedua kaki sedikit terbuka, dan pinggul sedikit menempel pada kursi, bungkukan tubuh dan angkat sedikit kedua pinggul diatas kursi.

d. Secara perlahan kembali ke posisi duduk.

Catatan: Untuk kemajuan latihan, coba untuk sampai ke posisi berdiri dan lalu kembali duduk. Latihan ini dapat dilakukan oleh penderita dengan keseimbangan yang baik dan dapat berdiri dengan aman.

Latihan 8 – Latihan memelihara gerakan ankle yang diperlukan untuk berjalan (bermanfaat juga untuk memelihara gerakan pergelangan tangan dan siku)

a. Posisi berdiri dengan jarak sepanjang lengan dari dinding, lutut lurus, berdiri dengan posisi tubuh agak bungkung dan beban tubuh terbagi rata pada kedua kaki.

b. Tangan yang tidak terkena stroke menyangga melawan dinding setinggi dada.

c. Secara perlahan, lutut sedikit ditekuk, dan badan dicondongkan ke dinding. Posisi ini akan mengulur punggung dan tungkai bawah. Jaga tumit tetap menempel di lantai.

d. Luruskan siku, dan dorong tubuh menjauhi dinding.

Catatan: Jika lengan penderita stroke sulit digerakan, latihan ini akan sulit dilakukan. Konsultasikan dahulu dengan dokter/fisioterapis sebelum melakukan latihan ini.