DISFAGIA PADA PASIEN STROKE DAN TATALAKSANA NUTRISINYA

Tanggal : 02-Oct-2018 | Dilihat : 251 kali
Oleh : Dr.Syahda Suwita, M.Gizi, SpGK dari RS Stroke Nasional Bukittinggi

Pasien stroke sering mengalami disfagia yaitu sekitar 30-50% pasien. Tatalaksana nutrisi yang tepat diperlukan untuk mencegah malnutrisi dan mempertahankan status hidrasi yang adekuat. Pemberian nutrisi dapat dilakukan melalui jalur enteral dan parenteral jika terjadi disfagia.

Menelan merupakan mekanisme yang kompleks, makanan didorong melalui faring dan esofagus, dan makanan dicegah supaya tidak masuk ke dalam saluran napas. Proses menelan makanan terdiri dari tiga fase yaitu fase oral, fase faringeal, dan fase esophageal. Pada awalnya terjadi pencampuran makanan dengan saliva pada fase oral, kemudian dikunyah dan terbentuk bolus, bolus makanan ini mencapai arkus faringeal pada fase faringeal, akibatnya palatum mole naik menutup nasofaring sehingga mencegah regurgitasi orofaringeal dan aspirasi. Selanjutnya bolus makanan akan didorong menuju lambung pada fase esophageal. 

            

Gangguan menelan pada pasien stroke sering terjadi pada fase oral dan fase faringeal sehingga menyebabkan disfagia. Oleh karena itu saat awal masuk rumah sakit, pada semua pasien stroke harus dilakukan skrining disfagia. Terdapat beberapa metode skrining disfagia seperti water swallowing  test, multiple consistency test, dan swallowing provocation test.

Tatalaksana nutrisi yang diberikan bertujuan untuk mencegah malnutrisi dan mempertahankan status hidrasi yang adekuat, akibat disfagia, penurunan kesadaran dan depresi yang dapat mengurangi asupan nutrisi pasien. Selain itu faktor risiko stroke perlu dipertimbangkan juga dalam memberikan nutrisi.                                                                                       

Jalur enteral atau tube feeding dapat digunakan untuk pemberian nutrisi jika terjadi disfagia. Pemakaian tube feeding sering dirasakan kurang nyaman oleh pasien, oleh karena itu sering digunakan tube feeding ukuran yang lebih kecil pada orang dewasa dengan ukuran 8-Fr, 10-Fr, atau 12-Fr. Ukuran kecil ini juga dibutuhkan pada saat akan weaning enteral nutrition. Apabila terdapat kontra indikasi pemberian nutrisi enteral, dapat diberikan parenteral nutrisi.

National Dysphagia Diet (NDD) merupakan tatalaksana nutrisi pada pasien yang mengalami disfagia. Pemberian makanan dilakukan secara bertahap, yang disesuaikan dengan tingkat keparahan disfagia pasien, yaitu terdapat 4 tingkat cairan (makanan cair) yang kekentalannya diturunkan bertahap dan 3 tingkat makanan padat, yang dimulai dari bubur kemudian ditingkatkan secara bertahap. Cairan (makanan cair) dapat dikentalkan dengan menggunakan susu bubuk tanpa lemak atau tepung maizena.

Level satu NDD diberikan pada pasien dengan disfagia sedang sampai berat, terdapat gangguan bicara, terjadi gangguan menelan pada fase oral dan menurunnya kemampuan untuk melindungi jalan napas. Maka pasien diberikan bubur, dan makanan yang memiliki tekstur seperti puding. Makanan dengan tekstur kasar seperti kacang-kacangan, buah-buahan mentah, dan sayuran tidak diizinkan. Cairan yang dapat diberikan dengan tingkat kekentalan spoon-thick. 

Tingkat dua NDD, diberikan makanan transisi dengan tekstur yang lebih

padat daripada bubur, tetapi masih memiliki tekstur yang lembut. Pasien memiliki kemampuan mengunyah dan mengalami disfagia oropharyngeal derajat ringan sampai sedang. Semua bentuk diet yang diberikan pada NDD tingkat satu dapat juga diberikan pada tingkat ini. Cairan yang dapat diberikan sampai tingkat kekentalan nectar-thick.

Tingkat tiga NDD, diberikan makanan transisi untuk diet biasa, teksturnya hampir sama dengan makanan biasa kecuali untuk yang sangat keras, renyah, atau lengket. Makanan tetap dalam potongan yang  kecil sehingga memudahkan untuk ditelan. Cairan yang dapat diberikan sampai tingkat kekentalan honey-thick. Diet ini ditujukan untuk pasien dengan disfagia orofaring ringan, setelah pasien menunjukkan kemampuan untuk mentolerir makanan ini dengan baik, diet dapat ditingkatkan ke diet biasa. 

Tahap weaning enteral nutrition adalah dilakukan secara bertahap pemberian nutrisi melalui oral, seiring dilakukan penurunan bertahap nutrisi melalui tube feeding. Jika pasien mampu menghabiskan 75% atau lebih dari kebutuhan nutrisinya melalui oral secara konsisten, selama tiga hari berturut-turut, maka nutrisi melalui tube feeding dapat dihentikan. Status hidrasi dan kemampuan menelan dipantau secara ketat selama tahap ini, terutama terfokus kepada komplikasi pernapasan.

Strategi postural dapat efektif dalam mencegahaspirasi pada 75%−80% dari pasien stroke. Perubahan posisi pada saat makan dengan sudut tertentu dan gaya gravitasi yang memungkinkan proses menelan yang aman dari bolus makanan, sehingga aspirasi dapat dicegah. Posisi chin tuck, chin up dan rotasi kepala ke sisi yang terkena, dan kepala miring ke sisi yang lebih kuat, adalah contoh dari teknik postural.

REFERENSI

  1. Wirth R, Smoliner C, Jager M, Warnecke T, Leischker AH, Dziewas R. Guideline clinical nutrition in patients with stroke. Experimental & Translational Stroke Medicine.2013;5:1-11
  2. Remig VM. Medical nutrition therapy for neurologic disorders. In: Mahan LK, Escott-Stump S, editor. Krause’s Food and Nutrition Therapy 12th ed.St.Louis: Elsevier Saunders; 2008.p.1067-101.
  3. Roman GC. Nutritional disorders of the nervous system. In:Shils ME, Shike M, Ross AC, Caballero B, Cousins RJ. Modern in Health and Disease 10th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2006.p.1362-80.
  4. Corrigan ML, Escuro AA, Celestin J, Kirby DF. Nutrition in the Stroke Patient. Nutr Clin Pract.2011;26:242.
  5. Sistem Pencernaan Makanan Pada Manusia. Diunduh dari ardyafatma.blogspot.com. Diakses tanggal 25 September 2018.