DIRJEN YANKES : PENATAAN RUJUKAN YANKES DIPERLUKAN DALAM UPAYA PENANGGULANGAN KANKER

Tanggal : 26-Sep-2016 | Dilihat : 1719 kali

JAKARTA - “Seiring dengan ditetapkannya 144 RS yang terdiri dari 14 RS Rujukan Nasional, 20 RS Rujukan Provinsi dan 110 RS Rujukan Regional, diharapkan rujukan pelayanan kesehatan dapat ditata kembali dengan menjadikan RS tersebut sebagai RS yang memenuhi standar dalam pelayanan kesehatan termasuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan terhadap penyakit kanker", demikian disampaikan Dirjen Pelayanan Kesehatan, dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K) MARS saat membuka acara Training of Trainer (TOT) Penanggulangan Kanker di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (26/9).

Kementerian Kesehatan melalui Komite Penanggulangan Kanker Nasional menyelenggarakan TOT Penanggulangan Kanker di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, yang menekankan pada aspek advokasi dan kemitraan, baik dalam konteks rujukan antar fasilitas pelayanan kesehatan maupun dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 26 s.d 30 September 2016 dan diikuti oleh perwakilan dari 14 (empat belas) provinsi yang memiliki RS Rujukan Nasional. Hadir pula sebagai narasumber diantaranya Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, Sp.Rad(K), Onk.Rad, dr. Fiastuti Witjaksono, M.S, Sp.GK, dan Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, MARS.

Penanggulangan kanker mencakup berbagai upaya mulai dari promosi kesehatan, pencegahan, deteksi dini, diagnosis, tatalaksana hingga pelayanan suportif, rehabilitatif dan paliatif. Di negara berkembang seperti Indonesia, pengetahuan tentang pola hidup sehat, pencegahan dan deteksi dini kanker masih sangat rendah sehingga menjadi penyebab terjadinya keterlambatan dalam diagnosis dan tatalaksana kanker, yang berujung pada rendahnya keberhasilan pengobatan kanker. Secara umum, peran fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga medis yang bekerja di dalamnya masih cenderung terbatas pada aspek diagnosis dan tatalaksana saja sedangkan peran advokasi dan kemitraan masih tertinggal.

"Sebagai contoh fakta, saat ini sudah banyak RS yang mampu memfasilitasi sendiri terkait penanganan kanker. Namun, masih terdapat RS yang belum menginvestasikan untuk onkologi. Oleh karenanya dibutuhkan sinergi antara tata kelola klinis dan tata kelola organisasi. Tata kelola klinis ini akan berjalan baik jika tata kelola organisasi dimanajemen dengan baik", jelas Prof. Soehartati

Penanganan pasien kanker di RS pada umumnya belum ditangani secara terpadu sehingga kemungkinan masih dapat terjadi penanganan kanker yang tidak efektif dan efisien. Belum adanya konsep sistem rujukan pelayanan kanker yang mencakup pelayanan kesehatan mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan tingkat primer, sekunder maupun tersier juga merupakan kendala. Hal ini dapat dilihat dari masih menumpuknya pasien kanker di RS Cipto Mangunkusumo dan RS Kanker Dharmais. Oleh karenanya, dibutuhkan system rujukan pelayanan kanker yang lebih terkonsep dan terstruktur.

Pada penghujung sambutannya, Dirjen Yankes mengharapkan ilmu dan keterampilan yang didapat pada pelatihan ini dapat diaplikasikan dan dibagikan kepada rekan-rekan sejawat yang ada di daerah sehingga dapat mendukung penurunan angka kematian di Indonesia akibat kanker.

*Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-5277734 atau alamat e-mail: humas.yankes@gmail.com