PELAYANAN GIGI DAN MULUT TERINTEGRASI

Tanggal : 15-May-2018 | Dilihat : 192 kali

Oleh : drg. Dimas Cahya Saputra, SpKG

Sebagai rumah sakit kelas A dengan skala regional dan bahkan nasional, pelayanan di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten harus menjadi sedemikian rupa sehingga layak disebut sebagai rumah sakit dengan layanan berkelas. Setiap KSM di lingkungan RSST masih dan terus berjuang untuk menghadirkan produk layanan terbaik kepada masyarakat termasuk diantaranya adalah KSM Gigi dan Mulut.

KSM Gigi dan Mulut dengan kekuatan 7 (tujuh) dokter gigi Spesialis yaitu Spesialis Bedah Mulut, Spesialis Konservasi Gigi, Spesialis Periodonsia, Spesialis Ortodonsia, Spesialis Prostodonsia, Spesialis Kedokteran Gigi Anak dan Spesialis Penyakit Mulut serta 3 (tiga) dokter gigi umum, maka KSM Gigi dan Mulut siap untuk memberikan pelayanan optimal kepada pasien.

RSST sebagai FKTL memang sudah seharusnya memiliki kemampuan yang memadai untuk menjadi solusi terminal dari rekan sejawat dari faskes tingkat di bawahnya. Pelayanan di KSM gigi dan mulut sudah menerapkan konsep yang terintegrasi antar spesialis dan antara dokter gigi umum dan dokter gigi spesialis. Dengan demikian maka diharapkan hasil perawatan menjadi optimal, risiko komplikasi yang minimal dan memuaskan bagi pasien.

Komunikasi yang baik  antar disiplin ilmu adalah kunci dari kesuksesan perawatan di KSM gigi dan mulut, setiap pasien yang datang ke KSM gigi dan mulut akan mendapatkan pelayanan spesialistik terpadu. Setiap aspek kesehatan gigi dan mulut selalu menjadi pertimbangan yang integratif. Konsep integrasi tersebut akan memberikan hasil perawatan dengan risiko komplikasi yang minimal. Sebagai contoh, apabila pasien dengan kasus lobang gigi yang kronis sehingga memerlukan tindakan tertentu dari satu disiplin ilmu maka pada pasien tersebut juga akan dilihat faktor penyerta lainnya yang sekiranya dapat menurunkan kemungkingkinan keberhasilan perawatan akibat potensi infeksi yang tidak terkontrol. Potensi infeksi dapat meningkat dengan kondisi kebersihan lingkungan gigi dan rongga mulut yang buruk misalnya akibat dari adanya karang gigi. Maka sebelum dilakukan tindakan lanjutan, perlu dilakukan upaya pembersihan karang gigi terlebih dahulu.

Upaya terpadu tersebut juga termasuk upaya edukasi kepada pasien. Misalnya dengan memberikan edukasi cara menyikat gigi dengan baik dan benar. Upaya sederhana yang apabila dilakukan dengan benar maka akan memberikan hasil yang maksimal. Hal tersebut tidak lepas dari konsep paradigma sehat yang menjadi inti dari upaya kesehatan masyarakat dari kementrian kesehatan. Edukasi kesehatan gigi dan mulut tidak terbatas di dalam poli gigi dan mulut namun juga diupayakan untuk disebarluaskan kepada masyarakat umum bekerjasama dengan tim humas RSST. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang terpercaya, terlebih di jaman sekarang dimana arus informasi semakin mudah bertukar baik yang benar maupun hanya sekedar berita bohong atau hoax.