DELEGASI 10 NEGARA ASEAN BERKUMPUL BAHAS MASALAH KESEHATAN JIWA

Tanggal : 29-May-2015 | Dilihat : 3891 kali

Yogyakarta - Kesehatan jiwa merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan dan kesejahteraan. Beberapa dekade yang lalu, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa definisi kesehatan bukan hanya ada atau tidaknya suatu penyakit, tapi juga mencakup keadaan fisik, mental, dan juga kesejahteraan sosial. Namun, saat ini masih banyak terjadi berbagai permasalahan kesehatan jiwa di sejumlah negara khususnya negara-negara anggota ASEAN. Untuk membahas dan mengatasi hal tersebut, dibentuk ASEAN Mental Health Tasforce (AMT) dibawah payung ASEAN Socio Cultural Community.

“AMT pada awalnya merupakan inisiasi Indonesia dan Thailand pada tahun 2010. Bertujuan sebagai wadah bertukar informasi, membuat kesepakatan, kebijakan, dan indikator bersama  untuk mencapai pelaksanaan Rencana Kerja ASEAN, khususnya terkait Kesehatan Jiwa, kata Ketua ASEAN Mental Health Tasforce (AMT) Periode 2014-2016, dr. Eka Viora, SpKJ yang juga Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan - Kementerian Kesehatan RI, Selasa (05/05).

Pertemuan tingkat regional AMT ini dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di negara-negara ASEAN. Tahun ini, AMT ke-4 pada tahun 2015 diselenggarakan di Indonesia, pada 5 8 Mei 2015 di Hotel Grand Aston, Yogyakarta. Pertemuan ini mengundang 10 negara ASEAN yaitu Vietnam, Myanmar, Cambodia, Phillipihine, Singapore, Brunei Darussalam, Lao, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Selain itu, hadir pula mitra AMT antara lain WHO dan University of Melbourne sebagai konsultan AMT.

“Kesehatan jiwa di sejumlah negara memang belum menjadi prioritas. Maka, hal yang ingin disuarakan dalam pertemuan ini adalah kita ingin menjadikan kesehatan jiwa ini masuk kedalam agenda prioritas negara, tambahnya.

Selain pertemuan Tingkat Regional AMT, dilaksanakan juga Workshop on Implementing MHGap and Develope the Monitoring and Evaluating Program Across ASEAN. Terkait hal tersebut, seluruh delegasi menyampaikan presentasinya terkait upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kesenjangan pelayanban kesehatan khususnya masalah kesehatan jiwa. Di beberapa negara, masih terjadi kesenjangan terhadap pelayanan kesehatan yang mengakibatkan banyak orang dengan gangguan jiwa tidak mendapatkan pengobatan.

“Kesenjangan pelayanan kesehatan, seperti sulitnya mendapatkan akses pengobatan bagi penderita gangguan jiwa, dan juga belum kuatnya sistem pelayanan kesehatan dimana pengobatan orang dengan gangguan jiwa tidak ada di setiap level layanan, jelasnya. Kesehatan jiwa di sejumlah negara memang belum menjadi prioritas. Maka, hal yang ingin disuarakan dalam pertemuan ini adalah ingin menjadikan kesehatan jiwa ini masuk kedalam agenda prioritas negara, terutama sebagai Agenda pasca MDGs 2015. 

Sri Sultan Hamengkubuwono X undang Delegasi AMT

Delegasi dari 10 negara ASEAN pada pertemuan AMT juga berkesempatan untuk berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono X secara langsung menerima delegasi AMT di kediamannya, melalui jamuan makan malam, Selasa (05/05). Hadir pula Sekretaris Jenderal, Kementerian Kesehatan Dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes yang juga sebagai Senior Officials Meeting on Health Development.

“Menjadi suatu kebahagiaan bagi saya diundang ke Keraton Yogyakarta, begitu pula dengan para delegasi dari 10 negara, seusai seharian diskusi panjang dengan topik penting terkait masalah kesehatan jiwa, kata Dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes dalam sambutannya.

Pada kesempatan ini, Dr. Untung menyampaikan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X, bahwa Indonesia saat ini dipercaya menjadi Ketua ASEAN Mental Health Tasforce (AMT) periode 2014-2016. Akan dibahas dalam pertemuan ini, kebijakan tentang kesehatan jiwa di negara-negara ASEAN. Pertemuan ini juga dijadikan sebagai alat advokasi dalam mendukung percepatan pelaksanaan program kesehatan jiwa nasional. Dibahas pula, sejumlah arah strategis ASEAN terkait kesehatan jiwa kedepan. Menteri Kesehatan juga telah mengakui urgensi kesehatan jiwa yang menjadi prioritas di ASEAN Post-2015 Health Development Agenda.

Pemilihan Kota Yogyakarta sebagai kota diselenggarakannya pertemuan ini adalah juga ingin mempromosikan wisata di Indonesia dan memperkenalkan Indonesia, khususnya Yogyakarta, dari segi budaya, keindahan, dan kuliner. Dr. Untung berharap para delegasi dapat merasakan keramahan dari masyarakat Yogyakarta. Menurutnya, Yogyakarta merupakan kota yang memiliki daya tarik yang luar biasa.

“Hampir setiap orang yang telah mengunjungi Yogyakarta baik itu bekerja maupun wisata, setelah pulang ke negaranya bermimpi kembali ke kota ini. Saya harap Anda (delegasi-red) memiliki perasaan yang sama, harapnya.

Dr. Untung juga berterima kasih kepada para delegasi karena telah memberikan kontribusi yang signifikan untuk ASEAN terutama berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa. “Ini adalah keinginan kuat kami untuk memberikan kontribusi besar untuk kemajuan sosial di seluruh negara ASEAN, tutupnya. ***                                                                          

**Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-5277734 atau alamat e-mail : humas.buk@gmail.com