BANTUAN HIDUP DASAR / BASIC LIFE SUPPORT DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

Tanggal : 18-May-2018 | Dilihat : 2449 kali

Apapun pekerjaan kita guru, dosen, kontraktor, pemadam kebakaran, pedagang pasar maupun pegawai yang berada di bidang kesehatan seperti dokter, perawat atau bidan dapat saja berurusan dengan masalah kegawatan jantung. Menurut WHO, 17,5 juta (30%) dari 58 juta kematian di dunia, disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah pada tahun 2005. Dari seluruh angka tersebut, penyebab kematian antara lain disebabkan oleh serangan jantung (7,6 juta penduduk), stroke (5,7 juta penduduk), dan selebihnya disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah (4,2 juta penduduk). Hal ini diperkuat dengan data yang diperoleh pada tahun 2007, angka kematian akibat penyakit jantung dan tidak menular pada tahun 1995 sebesar 41,7% meningkat menjadi 59,5% pada tahun 2007, dan sekitar 88% serangan jantung terjadi di rumah1. Dengan angka angka yang disebutkan sebelumnya terlihat peningkatan kejadian gangguan / kegawatan jantung dari tahun ke tahun, yang membuat kita harus semakin wapada mengenai kondisi sekeliling kita. Bukan tidak mungkin seseorang yang setiap hari kita temui menjadi korban serangan jantung, yang sangat membutuhkan pertolongan orang – orang di sekitarnya. 

 

Beberapa Negara memiliki panduan / guideline dalam hal pertolongan pertama dalam penatalaksanaan serangan / henti jantung yang dibuat oleh professional medis di negara tersebut.  Panduan yang disusun biasanya disebut Bantuan Hidup Dasar (BHD) / Basic Life Support atau biasa disebut BLS, panduan ini pada umumnya meliputi beberapa kondisi, misalnya henti jantung, tersedak, tenggelam dan lain – lain. BLS dimaksudkan untuk dilakukan oleh semua orang, baik yang memiliki dasar pengetahuan kesehatan, maupun yang tidak, sehingga panduan BLS tidak memerlukan tindakan penggunaan obat atau kemampuan/skill khusus tertentu, berbeda dengan Bantuan Hidup Lanjut / Advanced Life Support/ ALS. BLS yang merupakan tindakan dasar kadang juga menjadi prasyarat di beberapa pekerjaan, misalnya penjaga pantai, polisi, satuan pengamanan bahkan sopir ambulan. Penerapan BLS di lapangan / tempat kejadian akan memberikan kesempatan / waktu lebih terhadap tim medis yang lebih ahli untuk tiba di tempat dan memberikan bantuan lanjut. Pelaksanaan BLS sesuai panduan di beberapa negara memang menyaratkan ketersediaan alat defibrilasi jantung, atau biasa disebut Automated External Defibrillator/AED. AED di luar negeri memang tersedia di tempat – tempat umum, namun tidak demikian di Indonesia, hal ini memang perlu menjadi perhatian bagi pemerintah. Penggunaan BLS dengan AED akan meningkatkan angka survival penderita henti jantung.

Panduan yang banyak diadopsi adalah panduan dari American Heart Association/ AHA. AHA didirikan tahun 1915 di New York sebagai organisasi non profit yang bergerak di bidang kesehatan jantung. Pada tahun 1960 AHA mengeluarkan panduan BLS pertama yang diikuti revisi ditahun berikutnya, pada tahun 2010 AHA mengeluarkan panduan terbaru yang merupakan perbaikan dari panduan tahun 2005. Prinsip utama BLS adalah mengalirkan sirkulasi darah, dan pemberian nafas melalui jalan nafas yang bersih, sehingga proses kerusakan organ – organ tubuh dapat dihambat. AHA memberikan singkatan yang mudah diingat yaitu : C-A-B, yang merupakan singkatan dari : Circulation-Airway-Breathing. Circulation---menggambarkan pemberian sirkulasi darah yang mencukupi ke jaringan melalui pelaksanaan kompresi dada. Airway---memastikan jalan nafas penderita dalam kondisi bebas dari benda yang menyumbat mulut. Breathing----pemberian bantuan nafas melalui mulut untuk menjamin ketersediaan udara/oksigen di paru – paru penderita. 

Artikel