ASMA PENTING DIWASPADAI (NEVER TOO EARLY, NEVER TOO LATE)

Tanggal : 15-May-2018 | Dilihat : 185 kali

Pendahuluan

Siapa yang tidak megenal asma? Penyakit ini memang sering kita jumpai. Bahkan kadang ada orang yang menyangka bahwa semua sesak itu adalah asma. Oleh karena itu ada baiknya kita mengenal lebih dalam lagi tentang asma.

Mengacu pada data dari WHO, saat ini ada sekitar 300 juta orang yang menderita asma di seluruh dunia. Terdapat sekitar 250.000 kematian yang disebabkan oleh serangan asma setiap tahunnya, dengan jumlah terbanyak di negara dengan ekonomi rendah-sedang. Prevalensi asma terus mengalami peningkatan terutama di negara-negara berkembang akibat perubahan gaya hidup dan peningkatan polusi udara. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, melaporkan prevalensi asma di Indonesia adalah 4,5% dari populasi, dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032. Asma berpengaruh pada disabilitas dan kematian dini terutama pada anak usia 10-14 tahun dan orang tua usia 75-79 tahun. Di luar usia tersebut kematian dini berkurang, namun lebih banyak memberikan efek disabilitas. Saat ini, asma termasuk dalam 14 besar penyakit yang menyebabkan disabilitas di seluruh dunia. Untuk itulah kita harus selalu mewaspadai penyakit asma dengan cara meningkatkan kesadaran setiap orang untuk selalu mengetahui waktu yang tepat mengatasi penyakit saluran pernapasan.

Definisi

Asma  adalah penyakit heterogen yang biasanya ditandai oleh peradangan kronik jalan napas. Penyakit ini dapat diketahui oleh adanya keluhan pernapasan seperti sesak napas, batuk, rasa berat di dada dan juga mengi yang sifatnya dapat ringan sampai berat, bisa sembuh sendiri dengan atau tanpa pengobatan bersamaan dengan adanya hambatan aliran udara ekspirasi yang bervariasi.

Saluran napas penderita asma berbeda dengan saluran napas yang normal. Pada keadaan serangan terjadi spasme saluran napas sehingga saluran napas menyempit, dinding saluran napas menebal karena terjadi bengkak, serta terjadi hipersekresi kelenjar sub mukosa saluran napas dan terjadi sebukan-sebukan sel radang yang akan mengeluarkan zat-zat kimia sitokin dan mediator yang dapat menyebabkan peradangan saluran napas.

Penyebab dan Pencetus Asma

Perlu diketahui bahwa  latar belakang proses penyakit (fenotip) asma antara satu orang dengan lainya berbeda-beda. Fenotip asma meliputi asma alergi, asma non alergi, asma usia tua, asma dengan hambatan aliran udara yang menetap serta asma pada obesitas. Perbedaan fenotip-fenotip inilah yang menyebabkan perbedaan penatalaksanaan asma satu dengan lainnya.

Serangan asma paling banyak dipicu oleh infeksi saluran napas bagian atas dan aktivitas fisik, pemicu lainnya meliputi faktor lingkungan, stres emosional dan konsumsi beberapa makanan, minuman, atau obat-obatan. Faktor lingkungan yang dapat memprovokasi terjadinya serangan asma meliputi alergen inhalasi yang didapatkan di rumah atau di tempat kerja, iritan inhalasi dari polusi udara misalnya asap rokok, asap industri dan asap kendaraan. Asap kendaraan sendiri merupakan 70% atau bahkan lebih sebagai penyebab tingginya polusi udara di Indonesia, yang menjadikan Indonesia peringkat kedelapan di dunia dalam hal polusi udara.

Penegakkan Diagnosis Asma

Untuk mengetahui apakah seseorang menderita asma, maka sejumlah tes akan dilakukan oleh seorang dokter. Dokter biasanya akan mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai gejala yang dirasakan, waktu kemunculan gejala tersebut, dan riwayat kesehatan pasien serta keluarga. Selanjutnya serangkaian tes seperti spirometri, tes arus puncak ekspirasi (APE), uji provokasi bronkus, pengukuran status alergi, rontgen dada bisa dilakukan untuk memperkuat diagnosis asma tersebut.

Penanganan dan pengobatan asma

Serangan asma dapat mengganggu pekerjaan pada orang dewasa dan mengganggu aktivitas belajar pada anak-anak. Pada kondisi yang lebih berat, asma dapat mengancam jiwa dan menurunkan kwalitas hidup penderita. Tujuan dari penatalaksanaan asma adalah :

  • Menghilangkan dan mengendalikan  gejala asma
  • Mencegah perburukan gejala (eksaserbasi) penyakit
  • Meningkatkan fungsi paru mendekati normal
  • Mempertahankan fungsi paru
  • Menghindari efek samping obat
  • Mencegah obstruksi yang ireversibel
  • Mencegah kematian karena asma

Sehingga tercapailah tingkat asma terkontrol

Beberapa langkah untuk dapat mencapai asma terkontrol adalah dengan:

  1. Mengenali dan menghindari faktor pencetus yang dapat memicu terjadinya serangan asma
  2. Gunakan obat-obatan asma sesuai dengan petunjuk dokter
  3. Kunjungi dokter Anda minimal 2-3 kali dalam setahun untuk check up walaupun tidak ada masalah dalam pernapasan Anda
  4. Mengenali perburukan gejala (eksaserbasi) awal Anda dan tahu tindakan pertolongan pertama

Dengan mengenal lebih jauh tentang asma diharapkan dapat mencegah individu dengan predisposisi asma berkembang menjadi asma, dan mencegah pasien asma mengalami serangan asma atau asma yang menetap.