AMOK SI PEMBAJAK AMYGDALA

Tanggal : 12-Jul-2018 | Dilihat : 125 kali

dr. Kornelis Ibrawansyah, Sp.KJ - Psikiater RSJS Magelang

Bila kita buka kamus bahasa Inggris Oxford akan kita dapati kosa kata yang diserap dari bahasa Melayu yaitu Amok (Amuck). Oxford English Dictionaries menjabarkan kata amok dengan behave uncontrollably and disruptively, yaitu perilaku yang bersifat tidak terkontrol dan mengganggu. Mengapa justru kata amok ini diserap oleh orang-orang Inggris? Menurut Yudhistira (2013) saat masa penjajahan orang-orang Inggris mengaitkan kondisi mental dengan karakter khas bangsa Melayu (Indonesia dan Malaysia). Amok menurut Departemen Kesehatan RI (1995) mendefinisikan sebagai suatu episode disosiatif tunggal dan terbatas, yang ditandai adanya periode kemurungan serta cetusan tindak kekerasan, agresitivitas atau perilaku yang menimbulkan malapetaka, yang ditujukan kepada manusia dan objek lain. 

Amok merupakan sindrom terkait budaya yang keadaan ini (pola yang sama) terdapat di Indonesia, Malaysia, Laos, Filipina, Polynesia, Papua New Guinea, Puerto Rico dan suku Navajo (Depkes RI, 1995). Potensi “amuk” yang telah berusia panjang seiring dengan perjalanan panjang suku-suku bangsa di nusantara juga mengindikasikan bahwa sejak dulu ketidakadilan telah menjadi hal yang lumrah. Satu-satunya kondisi ketika “amuk” dilakukan adalah manakala berhadapan dengan ketidakadilan (Kosim, 2010).

Kondisi sosial masyarakat di negara kita Indonesia sehubungan adanya massa yang melakukan “amuk” atau amuk massa terhadap suatu peristiwa yang menyulut emosi, sering kita temui baik melihat secara langsung atau kita ketahui melalui berita dari media sosial. Di antaranya pada awal bulan Agustus 2017 seorang laki-laki yang bernama Muhammad Al Zahra alias Joya atau Zoya (30 th) warga Kampung Jati RT 04/05, Desa Cikarang Kota, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tewas dibakar hidup-hidup oleh massa yang marah karena diduga melakukan pencurian sebuah amplifier Masjid (Tribunnews, 2017). 

Sekalipun benar seseorang diduga telah melakukan pencurian apakah tetap harus di amuk massa dengan cara dipukuli dan dibakar hidup-hidup, dimana tindakan tersebut sangatlah tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila, hukum negara Indonesia yang ada dan berlaku hingga saat ini maupun menurut semua agama tentu akan bertentangan dengan perilaku tersebut. 

Menurut dr. H. Wildan, Sp.KJ menjelaskan bagaimana dinamika massa bisa mengamuk menghakimi seorang yang diduga bersalah. Seperti yang kita ketahui bahwa respon seseorang bila menghadapi situasi stress dihadapannya akan selalu dihadapkan pada dua pilihan yaitu menghadapi atau lari dari situasi stress tersebut atau yang kita kenal  The fight or flight response. Tentu lanjut dr. H. Wildan, Sp.KJ pada saat peristiwa tertangkapnya pencuri amplifier masjid terjadi suatu kondisi yang sangat tidak seimbang dimana seorang yang diduga mencuri hanya seorang diri tanpa senjata apapun menghadapi massa yang banyak sehingga dapat dipastikan respon massa pasti akan berani menghadapi pencuri yang hanya seorang diri ini / fight. Permasalahan akan muncul dimana massa yang sebagian besar menghadapi situasi tertangkapnya pencuri amplifier masjid tersebut hanya menggunakan emosi tanpa memikirkan sejenak dengan baik, benar dan adilkah tindakan yang akan diberikan saat itu pada pencuri. Termasuk tindakan membakar hidup-hidup pencuri yang sudah bersujud meminta maaf tetap akan sulit pencuri tersebut mendapatkan maaf dari massa yang hampir semua massa sudah dalam kondisi emosi dan terlebih bila massa juga sudah terbiasa mendahulukan emosi untuk menyelesaikan segala sesuatu. Ditambah lagi konteks barang yang dicuri dalam kasus ini lanjut dr. H. Wildan, Sp.KJ menjelaskan merupakan milik masjid yang walaupun tidak mahal namun secara super ego hal diduga pencurian tersebut merupakan nilai yang semakin memancing massa yang sebagian besar mudah terbakar emosi dalam menyikapi kasus tersebut.

Berdasarkan aspek neuroanatomi, kejadian tersebut dapat disebabkan karena pembajakan amygdala (Amigdala Hijack)  yang terjadi karena memang jarak antara amygdala dengan bagian sistem limbik yang lain, terutama hyppothalamus, lebih dekat dibanding jarak amygdala ke Prefrontal Cortax (PFC) dimana PFC yang terletak tepat di belakang dahi ini berfungsi untuk berpikir, melakukan penilaian, merencanakan, memutuskan sesuatu (memecahkan masalah), mengontrol emosi dan tubuh, kecerdasan, konsentrasi, memahami diri sendiri (kesadaran diri), empati pada orang lain, kepribadian dan juga moral/ perilaku. 

Apabila terjadi Amigdala Hijack, emosi kita akan cepat memberikan respon terhadap sebuah peristiwa atau kejadian, baru setelah respon tersebut terjadi kita tersadar dan mungkin menyesal bahwa telah memberikan respon tertentu yang kurang atau tidak tepat seperti misalnya kasus pembakaran hidup-hidup seorang yang diduga pencuri amplifier. 

Ada 3 tanda-tanda telah terjadi "Amigdala Hijack" pada diri kita yaitu: reaksi emosional yang kuat, bersifat tiba-tiba dan timbul penyesalan atas tindakan/reaksi tersebut. Karena respon amygdala yang cepat itu maka dibutuhkan suatu solusi bagaimana caranya untuk menghindari agar kita tidak selalu terbajak oleh amygdala kita sendiri? Anda cukup menunda memberikan respon sekitar 5 detik untuk memberikan kesempatan impuls tersebut sampai ke PFC. Setelah itu baru berikan respon. Ketika ada seseorang berlaku kurang baik kepada kita, tundalah respon emosi Anda sekitar 5 detik, Anda boleh menghitungnya dengan jari, untuk memutuskan apakah Anda akan marah, membalasnya atau anda cukup tersenyum kepadanya sebagai tanda ketulusan untuk menerima perlakuan tidak baik itu. 

Menurut Nadler (2009) saat anda memberikan jeda 5 detik sebelum mengambil keputusan/respon terhadap suatu peristiwa, sebaiknya selama jeda 5 detik tersebut anda memberikan pertanyaan pada diri sendiri yang tujuannya adalah untuk memfokuskan kembali aktivitas dari amigdala dan menstimulus aspek lain di otak untuk memperoleh lebih banyak kontrol kognitif dan memberikan pilihan dan arah yang konstruktif. Akses dua pertanyaan pertama untuk melabel/menamai jenis pikiran dan emosi. Pertanyaan ketiga agar menyadari niat apa yang akan kita lakukan. Pertanyaan keempat untuk mengevaluasi tindakan Anda sejalankah dengan niat Anda. Pola bagaimana Anda mendapatkan dalam cara Anda mungkin muncul. Pertanyaan terakhir atau ke 5 yaitu menyimpulkan semua data baru yang didapat secara sadar dan semua ini akan memberikan anda kesempatan dalam mengambil tindakan yang  lebih baik sesuai dengan tujuan yang anda inginkan.

  1. Apakah yang saya pikirkan? (Mengaktifkan fungsi otak bagian basal ganglia-berupa integrasi perasaan, pikiran dan gerakan).
  2. Apakah yang saya rasakan? (Mengaktifkan fungsi otak bagian basal ganglia-integrasi antara perasaan pikiran dan gerakan; lobus temporal-untuk kestabilan emosi, menamai perasaan untuk mengontrolnya.)
  3. Apakah yang saya inginkan? (Mengaktifkan fungsi otak bagian cerebellum-fungsi eksekutif yang berhubungan ke Prefrontol Cortex (PFC), suatu integrasi kognitif).
  4. Bagaimana cara saya melakukannya (mungkin cara yang akan dilakukan saat ini secara emosi)? (Mengaktifkan fungsi otak bagian Korteks prefrontal-belajar dari kesalahan/pengalaman).
  5. Apakah ada cara lain (selain secara emosi pada pertanyaan nomer 4) yang dapat saya lakukan sekarang? (Mengaktifkan fungsi otak bagian Korteks prefrontal-pengawasan/pengontrol kehidupan-fungsi eksekutif tujuan dan perencanaan; Anterior Cingulate Gyrus otak untuk melihat pilihan dari beberapa ide yang lebih baik).  

Contoh kasus penerapan 5 detik dengan 5 pertanyaan tersebut di atas misalnya kasus seseorang yang ditangkap karena diduga mencuri sebuah amplifier Masjid. Pertanyaan pertama apa yang saya pikirkan (keterlaluan kok berani mencuri amplifier ..milik Masjid lagi); Pertanyaan kedua apa yang saya rasakan (saya merasa marah dan sangat tersinggung karena mengambil sesuatu yang berguna untuk ibadah); pertanyaan ketiga yaitu apa yang saya inginkan (saya ingin pencuri ini kapok dan tidak berani mengganggu milik Masjid); pertanyaan keempat bagaimana caranya saya memberi pelajaran langsung pada pencuri (akan saya pukul pencuri itu dan bila perlu akan saya lakukan yang lebih mengerikan misalnya dibakar agar kawanan pencuri lain nya tidak berani melakukan hal serupa); pertanyaan kelima apakah ada alternatif lain selain pilihan nomer empat/ dipukul..alternatif yaitu pencuri diamankan dan diserahkan ke polisi agar di proses benar tidaknya dan mengaktifkan sistem keamanan lingkungan masjid dengan menghidupkan kegiatan kemasyarakatan yang berintegrasi dengan Masjid.

Dengan demikian dengan menunda 5 detik dan menjawab 5 pertanyaan di atas Insya Allah penyesalan atas tindakan emosional tidak akan menghampiri anda.