“ANTIGEN NS1 DENGUE" TES DETEKSI DINI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Tanggal : 14-Jan-2020 | Dilihat : 2064 kali
Oleh: Mairina, SKM, M.Biomed (Laboratorium RSSN  Bukittinggi)

World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 50-100 juta kasus infeksi virus dengue terjadi setiap tahun baik di negara yang terletak di daerah tropik maupun subtropik, yang mengakibatkan 250.000-500.000 kasus demam berdarah dengue dan 24.000 kematian setiap tahunnya. Di Indonesia, Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Keberhasilan terapi sangat bergantung pada diagnosis yang cepat, pengobatan segera, serta penanganannya. Gejala klinis infeksi dengue sangat mirip dengan beberapa penyakit demam lainya, sehingga diagnosis laboratorium yang akurat, cepat, tepat, efisiensi dan dapat dipercaya sangat dibutuhkan untuk mendeteksi dini infeksi virus dengue (Thomas S., et al. 2000).

Diagnosa DBD dilakukan dengan cara anamnesis penderita, pemeriksaan fisik dan dipertegas dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium mempunyai peranan yang penting untuk menegakan diagnosis DBD,untuk itu diperlukan pemeriksaan laboratorium yang akurasi dan presisi tinggi.   

Pemeriksaan laboratorium menurut WHO untuk DBD adalah trombositopeni  dan uji tourniquet (Thomas S., 2000). Pemeriksaan laboratorium yang lazim dilakukan (selain standar WHO) pada penderita DBD adalah

1.    Pemeriksaan Darah Tepi
  • Hematokrit (HT) tujuannya untuk mengetahui adanya hemokosentrasi.
  • Pemeriksaan Trombosit  : Umumnya pada fase demam akut  DBD trombositopeni (jumlah trombosit < 100.000/µl darah) antara hari 3-8 hari dari sakitnya. Tujuannya untuk menghitung jumlah trombosit secara kuantitatif dan mengukur kemampuan fungsi trombosit secara kualitatif..
  • Pemeriksaan leukosit ( terutama limfosit dan monosit).

2.  Uji Torniquet (Rumpel Leed)

3.  Pemeriksaan Limfosit Plasma Biru

4.  Pemeriksaan Koagulasi

5. Pemeriksaan Kimia klinik : pada DBD menunjukan hipoproteinemia / hipoalbuminemia, hiponatremia, peningkatan ringan SGOT dan SGPT, BUN meningkat.

Mengingat penyakit DBD ini berbahaya dan sering berakibat fatal maka diperlukan suatu pemeriksaan laboratorium yang tepat dan cepat untuk menunjang diagnosis, agar cepat tindak lanjut terhadap penderita DBD. Untuk itu diperlukan diagnosis akurat, cepat, tepat dan efisiensi agar deteksi dini infeksi virus dengue yaitu dengan “Tes antigen NS1 dengue”.

Tes antigen NS1 (protein nonstruktural 1) adalah tes untuk  diagnosis Infeksi Virus Dengue yang mendeteksi cepat pada hari pertama demam, sebelum munculnya antibodi (sekitar 5 hari atau lebih) yang Sensitivitas dan Spesifisitas yang tinggi . Metodenya  adalah secara tes immunosorbent enzim-linked.

Pada pemeriksaan NS1 yang positif pada hari 1-3, maka dapat dipastikan bahwa pasien terinfeksi virus dengue.

NS1 dalam ilmu kedokteran modern  sebagai modalitas terapi. Hal ini  sangat membantu dalam penegakan diagnosis infeksi virus dengue dalam waktu demam 4 hari pertama.

Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa perlu menunggu terbentuknya antibodi. Sehingga dapat segera melakukan terapi suportif , pemantauan pasien, mengurangi risiko komplikasi (dengue shock syndrome) yang dapat berakibat kematian.

Referensi
  1. Thomas Suroso, dkk. Pencegahan dan penganggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue, WHO dan Depkes RI Jakarta. 2000.
  2. Kassim FM. et al. Penggunaan antigen dengue NS1 untuk diagnosis dini infeksi virus dengue.  Unit Virologi, Lembaga Penelitian Medis, Kuala Lumpur, Malaysia.
  3. Hartono P., Pemeriksaan NS1 Dengue Pada Penderita Demam. infosehat. 2012
  4. Amorim JH, Alves RP, Boscardin SB, Ferreira LC. "Virus dengue non-struktural 1 protein: risiko dan manfaat". Penelitian Virus. 181 : 53–60. doi: 10.1016 / j.virusres.2014.01.001 . PMID 24434336 . 2014.
  5. Narayan R, Raja S, Kumar S, Sambasivam M, Jagadeesan R, Arunagiri K, Krishnasamy K, Palani G. "ELISA tidak langsung untuk diagnosis demam berdarah". The Indian Journal of Medical Research. 144 (1): 128–133. doi : 10.4103 / 0971-5916.193300. PMC 5116886. PMID 27834337 . 2016.

Artikel